Menyapa Bukit Siregol Desa Sirau

bukit siregol

Pada kesempatan ini saya manyambangi Bukit Siregol yang berada di desa Sirau kecamatan Karangmoncol, kabupaten Purbalingga – Jawa Tengah. Sejak tahun lalu saya penasaran tentang Bukit yang rimbun dan terkenal dengan lembah curam ini.

Yup, terus terang karena media sosial dan sering otak-atik peta daerah di aplikasi Google maps. Barulah pada Sabtu, 28 Mei 2022 kemarin saya bareng istri bergegas meluncur kesana, menyapa Bukit Siregol desa Sirau.

Bukit Siregol namanya, merupakan perbukitan yang masuk dalam sektor Pegunungan Serayu Utara secara administratif dibawah naungan kelompok pengelolaan hutan (KPH) Banyumas Timur. Perhatikan peta dibawah ini.

Ternyata, tak seperti yang saya duga. Siregol menyimpan kekayaan hayati baik flora dan fauna. Yang dapat memberikan fungsi ekologis bagi kehidupan disekitarnya. Belum lagi disini banyak sungai jernih.

Karena letak posisinya berada di sebelah timur Gunung Slamet, perbukitan ini pun terbagi dari beberapa kecamatan seperti: kecamatan Bobotsari, kecamatan Karangjambu, kecamatan Kertanegara, kecamatan Karangmoncol dan kecamatan Rembang.

Dan untuk wilayah desanya, Siregol mencakup : desa Kramat, desa Sirau, desa Langkap dan desa Jingkang. Baiklah, tujuan kita adalah desa Sirau, salah satu desa yang berada paling ujung utara kabupaten Purbalingga, berbatasan langsung dengan kecamatan Watukumpul kabupaten Pemalang.

Saat perjalanan, saya disambut oleh pemandangan sawah yang bersanding dengan sungai berbatu, ndeso banget suasananya benar-benar otentik kawan. Untuk HTM di Bukit Siregol tarifnya Rp. 5000,- per Orang, plus parkir kendaraan motor hanya Rp. 2000,- saja.

Didepan kita itu adalah bentang Perbukitan Siregol.
Memasuki area sejuk nan hijau dan lembah-lembah.

Saya melintasi jalan desa Kramat, ternyata jalannya beraspal halus dan menanjak. Begitu sampai di jalur lembah Bukit Siregol, disana saya harus berhati-hati karena tebing yang rawan longsor.

Ya Allah begitu indah lukisan-Mu. Panorama yang cantik, disambut bukit-karang menjulang tinggi, bak kembali ke jaman purba dan jika kita lihat sepintas bukit itu membentuk ‘punggungan dinosaurus’ Hehehe, ini keren.

Saat cuaca cerah, Awas…! hembusan anginnya kencang lho.

Lembah Bukit Curam nan Indah

Jika kita menengok ke kiri, menambah eksotisme panorama yakni terdapat lembah curam kurang lebih 90-100 meter, dibawahnya mengalir deras Sungai Tambra begitu jernih lengkap dengan anakan sungai dan curug-curug kecil. Tak keliru disini dijadikan spot mancing dan ciblon, namun tetap berhati-hati jika teman-teman kesini.

Oh iya, oleh masyarakat Purbalingga perbukitan Siregol juga dijuluki  sebagai pegunungan “Sisik Naga”. Sebab jika kita amati dari mode satelit di aplikasi Digital Maps, maka akan membentuk pola sisik naga lekukan dari barat ke timur.

Dibalik daun Pakis itu mengalir Sungai Tambra.
Mengabadikan momen diantara Bukit menjulang tinggi
Jalan sudah halus namun Sempit, harus hati-hati.

Sebenarnya Bukit Siregol Menyimpan Apa Saja?

Menyapa bukit Siregol desa Sirau, kurang lengkap rasanya jika tak menyapa warga lokalnya. Saat saya dan istri beli jajan di sebuah warung kopi, tak sengaja saya bertemu dengan Mas Amirin dan Mas Mahfud asli warga desa Sirau.

Kami pun memulai obrolan ngalor-ngidul. Syukur Alhamdulillah, cuaca hari itu cerah sekali.

Nampak, sambil menggarap sapu yang terbuat dari suket glagah arjuna, Mas Amirin merupakan salah satu warga pembuat sapu asli kerajinan desa Sirau.

Mas Amirin menyampaikan, bahwa desanya memiliki kekayaan alam, mulai dari flora dan fauna sampai dengan bentang hutan yang masih lebat, sungai dan seisinya. Belum lagi mitos-legenda yang beredar tentang Siregol dan adanya benda-benda yang diyakini peninggalan purba di Hutan Siregol ini.

Hmm jadi penasaran.

Jadi, untuk pembukaan wisata Bukit Siregol ini mulai ramai tahun 2017 lalu, masyarakat desa bekerjasama dengan Perhutani dalam mengelola wisata alam Siregol ini, atau yang kita kenal trend saat ini namanya “Siregol Superland”.

Sebenarnya, jika kita tarik waktu mundur ke belakang, sekira tahun 1990-an selain warga lokal, ada mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan beberapa kelompok pacinta alam yang sudah menyambangi Hutan Bukit Siregol ini, khususnya warga Purbalingga.

Kembali pada kekayaan alamnya. Terdapat Flora meliputi pinus-pinus, aren, anggrek dan kantung semar. Sedang Faunanya meliputi macan tutul, babi hutan, owa jawa, elang hitam, cekakak jawa dan masih banyak lagi.

Maturnuwun nggih, sudah berkenan ngobrol bareng.

Adakah kekayaan lain dibalik Hutan Bukit Siregol ini ?

Selanjutnya Mas Mahfud menimpali: “Banyak sekali sebenarnya, hanya saja kita perlu hati-hati dalam menjelajah bukit-bukit ini, ada banyak Bukit, karena bukan hanya kita saja yang melintasi Hutan Lindung Siregol ini.”

“Ada Peninggalan batu-batu purba di tengah hutan, yang jika mendaki ke hutan diatas bukit itu harus mengajak warga lokal, tidak sembarangan. Juga banyak anakan sungai-sungai jernih yang nantinya menyambung menuju sungai Klawing di kota Purbalingga.”

“Khususnya di aliran sungai Tambra ini juga tidak sembarangan, konon cerita sudah turun-temurun dari sesepuh desa Sirau. Bahwa nama ‘Sungai Tambra’ diambil dari Ikan jenis Tambra yang tak kasat mata, ia diyakini jarang terlihat namun kadang juga menampakkan diri di sungai. Warga menghormati makhluk itu sudah lama menunggu di sepanjang hulu sungai jernih tersebut.” Imbuh mas Mahfud sambil duduk santai.

Dari tutur warga tersebut, seolah imajinasi ini berjalan. Hmm… banyak juga ceritanya, tapi benarkah Siregol hanya menyimpan itu saja ?

Saya kira masih banyak yang belum terjamah dan tersingkap. Apalagi terdapat bebatuan purbakala, meski ada wujudnya. Saya belum menemukan tulisan ilmiah yang mengangkat Batu yang diyakini jaman Purbakala itu. Ya, mudah-mudahan diakui dan masuk dalam Cagar Situs Budaya Nasional, sehingga dapat dijadikan referensi resmi baik di dunia pendidikan maupun pariwisata.

Sungguh Indah Ciptaanmu Tuhan.
(Sungai diatas sungai). Mengalir tuun ke Sungai Tambra jernih sekali.
Jernih cocok untuk ciblonan Teman-teman.

Namun kembali, kita sebagai warga yang baik, sepatutnya menghormati apa yang berlaku disana. Menjunjung tinggi nilai budaya pada kearifan lokal di desa Sirau dan juga desa-desa di sekitarnya. Benar sekali, semua ada unggah-ungguhnya apalagi dalam menyibak mitos dan  sejarah suatu tempat.

Nah, menyoal desa yang saya kunjungi ini, menurut data yang diterbitkan BPS Kab. Purbalingga per tahun 2020. Desa Sirau memiliki beberapa fakta sebagai berikut  :

  • Jumlah penduduk 5.032 jiwa
  • Memiliki ketinggian tanah 874-900 mdpl
  • Memiliki luas total wilayah desa 1.284 ha
  • Jarak menuju pusat kecamatan Karangmoncol yaitu 20 km
  • Kerajinan unggulan: Sapu Glagah Arjuna
  • Potensi hasil bumi: ada gula aren, persawahan, daya tarik wisata alam dan situs sejarah

Semoga pegunungan Siregol tetap lestari dan senantiasa terjaga kebersihannya, sebagai benteng kekayaan alam di Bumi Kota Perwira.

Jangan sampai sampah-sampah plastik berserakan di tempat Wisata Alam Bukit Siregol. Hal tersebut adalah tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara, demi menjaga lingkungan.

Setelah kurang lebih dua jam ngobrol bareng warga. Saya ijin pamit melanjutkan motoran untuk turun ke kota Purbalingga. Tujuan berikutnya yaitu bersilaturhami ke rumah kawan lama, namanya Yoga dan diteruskan makan Soto Kriyik, sebelum akhirnya pulang ke Pekalongan.

Demikianlah secuil tulisan “Menyapa Bukit Siregol desa Sirau, kabupaten Purbalingga” ini. Semoga ada kesempatan lagi menyambangi tempat keren lainnya di Tanah Jawa.

Kedungwuni, 9 Juni 2022

Penulis: wildanmuqorrobin

" Mung blog cah Ndeso "

Monggo komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: